Terima Kasih Telah Berkunjung Keblog Ini, Jangan Lupa Untuk Menambah Tali Silaturahmi Join me http//indra musa al-makmun/facebook.com

Jumat, 23 Januari 2015

PESONA PULAU LEMUKUTAN
hiruk-pikuk perkotaan dan juga aktivitas-aktivitas yang tentunya membuat anda berfikir untuk mencari tempat-tempat refreshing, nah kali ini saya berbagi informasi seputar tempat-tempat yang tidak pernah sepi untuk dikunjungi oleh setiap orang baik semasa liburan maupun hari-hari biasa.


Salah satu tempat yang kita kunjungi kali ini adalah Pulau Lemukutan. Lemukutan merupakan tempat wisata bahari yang ada dikalimantan barat. Pesona bawah laut dan keindahan pantai menjadi daya tarik tersendiri pulau ini. Akses transportasi air kepulau ini terletak di kota singkawang khususnya Teluk Suak. Dengan perjalanan kurang lebih dua jam, selama dua jam perjalanan anda melintasi beberapa pulau yang indah seperti ini. 


Sebelum sampai ke Pulau Lemukutan, melalui transportasi air akan terlihat beberapa gugusan pulau-pulau lainnya yang tidak kalah indah seperti gambar diatas yang disebut dengan Pulau Penata Besar dan Penata Kecil. Nah ini seputar perjalanan menuju pulau lemukutan.


Nah ini adalah dermaga akses masuk kepulau Lemukutan yang berada di Teluk Melanau bagian timur (image juni 2013). Perbaikan infrastruktur terus dilakukan oleh pemerintah setempat demi kenyamanan berwisata kepulau ini, akhir tahun 2014 mulai diberlakukan tarif bagi setiap pengunjung pulau ini.

Berbicara mengenai panorama indah pulau ini dapat anda liat sendiri pada gambar ini.





Pesona pagi hari dan sore hari yang menjadi moment penting untuk mengabadikan liburan saya kali ini. Keindahan bawah laut khususnya Melanau timur masih bisa dijumpai hewan invertebrata seperti ini siput laut, bulu babi, kerang-kerangan, coral, spons, timun laut. Nah hewan-hewan ini dapat kita jumpai pada teluk melanau bagian timur sedangkan pada teluk melanau bagaian barat keindahan bawah laut memiliki pesona yang lebih indah jika dibandingkan dengan Melanau bagian Timur.

Teluk melanau bagian barat dapat kita jumpai beberapa jenis spesies anemo atau ikan nemo. Yang perlu kita ketahui bahwa keberadaan ikan nemo mencirikan keberadaan terumbu karang dan kualitas lingkungan yang seimbang. Pesona bawah laut diteluk melanau barat dapat lansung kita liat dengan kedalaman kurang lebih 80 cm. jangan lupa jika anda berkunjung keteluk melanau bagian barat anda harus tetap menjaga kelestarianya karena merupakan kawasan konservasi.

Bicara mengenai teluk melanau bagian timur pesona alam dapat anda liat seperti ini.



Berbagai pesona alam menawarkan keindahannya, penduduk yang mendiami pulau Lemukutan adalah sambas perantauan. Nah asal kata Lemukutan itu pilosofinya pulau ini mirip seperti Lembu. Denah pulau Lemukutan terbagi menjadi beberapa bagian yaitu melanau bagian timur dan bagian barat, teluk cina, teluk besar, teluk panjang, teluk surau dan teluk Palembang. PLN Lemukutan hanya beroperasi dari jam 17.00 – 06.00, bagi anda yang ingin liburan kepulau ini jangan lupa untuk melihat iklim cuaca terlebih dahulu karena jika musim penghujan kuatnya angin laut menyebabkan ombak tinggi, tetap mendengar instruksi dari petugas keselamatan setempat. Nah sampai disini dulu penjelasan mengenai kondisi yang ada di Lemukutan. Sampai jumpa…….


E-mail: indrawahyudi958@gmail.com      
facebook: Indra Musa Al-makmun 



ARSITEK ALAM KEINDAHAN PULAU KABUNG
Pulau Kabung merupakan pulau yang terletak di kabupaten bengkayang, kecamatan sungai raya kepulauan. waktu tempuh menuju pulau kabung ini kurang lebih dua jam dari pelabuhan teluk suak yang ada di kota singkawang. Kalau kita liat dari namanya saja cukup menyeramkan akan tetapi tidak pada keadaan yang semestinya, karena di pulau kabung hutannya masih tergolong hutan primer dan keindahan bawah laut masih berada dalam tahap perkembangan.

Menurut perkembangan mitos dari masyarakat setempat pada zaman dahulu pulau kabung ini didiami oleh pelaut dari bugis yang terdampar karena tenggelamnya kapal yang akan berlayar, karena sepi yang mencekam pulau ini dihuni oleh sebagian kecil orang (sekali lagi itu mitos percaya atau tidak kembali ke anda) akan tetapi biarpun begitu alam menawarkan berjuta kehidupan dan sampai saat ini kabung memiliki potensi laut dan hutan yang masih asri.

Pulau Kabung sering dikunjungi bagi para pemancing. Ciri yang saya ketahui dari pulau ini adalah sotong rebus. Sotong yang telah didapat dari hasil tangkapan dengan menggunakan jaring yang digatung (Bagan). Sotong yang telah direbus dijemur sampai kering bisa lansung kita santap rasanya yang lezat tidak bisa dijumpai selain dari pulau ini. Dipulau kabung ini terdapat sekolah dasar dengan tenaga pengajar dari tempat yang bukan penduduk asli pulau kabung.



Dipulau kabung ini masih bisa kita temui beberapa spesies monyet, sedangkan untuk keindahan bawah lautnya sendiri bisa kita temui coral dan bulu babi serta beberapa spesies ikan karang. Dipulau kabung ini banyak pengunjung berdatangan hanya untuk memancing hasil pancingan seperti ikan merah, ikan krapu, dan ikan gembung. Dipulau kabung masyarakat banyak memakai genset sebagai penerangan dimalam hari karena belum memiliki pembangkit listrik. Sedangkan untuk air bersih penduduk kabung menggunakan air kolam.
Keadaan bawah laut pulau kabung sekitar 30 meter lepas pantai tidak kita jumpai karang-karang lagi karena bentuk pantai lansung menjorok kelaut.


Nah itu dia keindahan bawah laut pulau kabung, indah bukan. Kelestarian pulau kabung membuatnya selalu terjaga oleh penduduk setempat.
Nah mengenai keadaan pulau kabung bisa anda liat sendiri dan komentar sendiri. J bersama rekan-rekan dari pojok kanan ada Riska, Debi, Andika, Dirga, Bil, Indra.


Sabtu, 06 September 2014

KKU/KKN UM PONTIANAK 2014
UNIT MEMPAWAH
SUB UNIT PASIR WAN SALIM
DOC: INDRA WAHYUDI
 
 

 

 

 

 

 

Foto ini memiliki tempat dan waktu yang jelas"

Jumat, 06 Juni 2014

ARTI SEBUAH KATA

Sebaiknya kita semua mulai mengendalikan Kata-kata yang keluar dari mulut kita dengan Kata-Kata yang Positif dan Baik.
Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air ang ditulis dalam buku “The Hidden Messages in Water” karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan, sayapun tertarik untuk melakukannya sbb:
  1. Tempatkan Nasi sisa yg sdh didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.
  2. Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata2 sbb:
  3. Toples A : “Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih”.
  4. Toples B : “Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu”
  5. Botol 2 ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut.
  6. Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 mingg kemudian :

Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap..
Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.
Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.
Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyata nasi dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata ” Kamu Bodoh”.
Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.
Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat,,
Indra Musa-almakmun//facebook.com

Minggu, 23 Februari 2014

3.1. Kelas Pisces

       3.1.1. Oreochromis niloticus ( Ikan Nila )




 doc. pribadi
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar dengan bentuk tubuh yang memanjang dan pipih ke samping dan dengan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungai Nil dan danau-danau di sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang memiliki iklim yang dingin ikan nila tidak dapat hidup dan berkembang dengan baik (Hasan, 2002). 

Saat ini ada dua jenis ikan nila yang beredar di Indonesia, yaitu nila hitam dan nila merah. Ikan nila banyak di temukan di perairan yang memiliki air tenang, seperti danau, rawa, dan waduk. Toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi. Nila termasuk ikan omnivora dan sangat menyenangi pakan alami berupa Rotifera, Dapnia sp, Moina sp, Benthos, Ferifiton, dan Fitoplankton (Djarijah, 1994).
       Menurut Hasan (2002), klasifikasi dari ikan nila adalah sebagai berikut :
       Kingdom  : Animalia
       Filum        : Chordata
       Kelas        : Osteichthyes
       Ordo         : Percomorphi
       Famili       : Cichlidae
       Genus       : Oreochromis
       Spesies     : Oreochromis niloticus
Ikan nila (Oreochromis niloticus) mempunyai bentuk tubuh lebih pendek. Tubuhnya lebih tebal, warna tubuhnya hitam keputihan, kepalanya relatif kecil, sisik berukuran besar, kasar, tersusun rapi, matanya besar, menonjol dan bagian tepinya berwarna putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus dibagian tengah badannya dagingnya cukup tebal dan tidak terdapat duri-duri halus didalamnya (Amri, 2002).
Ikan nila memilki lima buah sirip, yakni sirip punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (ventral fin), sirip anus (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggunya memanjang dari bagian atas tutup ingsang hingga bagian atas sirip ekor, terdapat juga sepasang sisrip dada dan sirip perut yang berukuran kecil. Sirip anusnya hanya satu buah dan berbentuk agak panjang, sedangkan sirip ekornya berbentuk bulat dan hanya berjumlah satu buah (Susanto, 2005).
3.2. Kelas Reptilia
       3.2.1. Crocodilus porosus ( Buaya Muara )


 Dok.Pribadi
Buaya muara (Crocodilus porosus) memiliki tubuh ditutupi oleh sisik-sisik yang berukuran besar, pada bagian ekor menyerupai duri-duri yang besar berderet dari pangkal ekor hingga ke arah ujung, sisik-sisik di bagian punggungnya berukuran lebih kecil dari sisik-sisik pada ekor. Di bagian depan mata sampai lubang hidung ditutupi oleh lempengan sisik yang tipis. Buaya muara memiliki ciri khas yaitu mulutnya selalu terbuka meskipun didalam air, meski mulutnya terbuka di dalam air, tetapi buaya muara masih mampu bernapas dengan baik saat lubang hidungnya berada di atas permukaan air. Buaya ini tidak mempunyai pengait di moncongnya (Djuanda, 1983).
Perilaku buaya muara senang merendam tubuhnya di dalam air, tanpa terganggu pernapasan dan penglihatannya, sebab lubang hidung dan matanya terdapat pada sisi bagian atas kepala. Selama hidupnya buaya selalu mengganti giginya dengan yang baru. Buaya punya tenaga paling kuat saat tubuhnya berada di dalam air. Ekor buaya sangat berperan saat berenang tau menyelam. Jenis kelamin buaya tidak dapat diketahui hanya dengan cara melihatnya secara langsung. Reproduksi dengan cara bertelur, fertilisasi interna yang terjadi saat perkawinan yang biasa terjadi di dalam air. Telur diletakkan di dalam timbunan tanah dan seresah berupa daun-daun dan ranting oleh buaya betina setelah 2 bulan dari waktu kawin, jumlah telur kadang mencapi 100 butir yang akan menetas setelah 8-12 minggu (Riduwan, 2002).
              Klasifikasi buaya muara adalah sebagai berikut (Kimball, 1990) :
       Kingdom  : Animalia
       Filum        : Chordata
       Kelas        : Sauropsida
       Ordo         : Crocodilia
       Famili       : Crocodylidae
       Genus       : Crocodilus
       Spesies     : Crocodilus porosus
Buaya muara akan mencari pakan pada waktu sore hingga malam hari, jenis binatang yang dimakan sangat bervariasi. Pada buaya yang masih anak akan memakan serangga, udang, ikan dan amphibia, sedang yang sudah dewasa akan memakan burung dan mamalia. Tempat hidupnya di muara sungai. Penyebarannya di Sri Langka, sampai Kepulauan Fiji dan Australia Utara (Surachmad, 1978).
3.2.2. Tomistoma schlegelii ( Buaya Senyulong )


 Google
Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii) merupakan salah satu spesies buaya yang mempunyai ukuran tubuh yang lebih kecil dan pendek, dengan panjang maksimal tubuhnya hanya 3,5 meter. Buaya senyulong ini mempunyai bentuk moncong runcing serta sempit. Habitat asli buaya senyulong ini yaitu dapat banyak ditemukan disekitar sungai-sungai pedalaman Sulawesi, Sumatera maupun Kalimantan (Iskandar, 2000).

ebagai hewan poikiloterm (berdarah dingin), predator ini dapat bertahan cukup lama tanpa makanan, dan jarang benar-benar perlu bergerak untuk memburu mangsanya. Meskipun nampaknya lamban, buaya merupakan pemangsa puncak di lingkungannya, dan beberapa jenisnya teramati pernah menyerang dan membunuh ikan hiu. Pada musim kawin dan bertelur buaya dapat menjadi sangat agresif dan mudah menyerang manusia atau hewan lain yang mendekat. Di musim bertelur buaya amat buas menjaga sarang dan telur-telurnya. Induk buaya betina umumnya menyimpan telur-telurnya dengan dibenamkan di bawah gundukan tanah atau pasir bercampur dengan serasah dedaunan. Induk tersebut kemudian menungguinya dari jarak sekitar 2 meter (Jafnir, 1985).
Perbedaan buaya senyulong ini dengan buaya lainnya adalah moncongnya yang sangat sempit dengan ukuran tubuh yang mencapai 5,6 m. jari kaki buaya ini memiliki selaput, dan sisi kakinya bertunas-tunas. Matanya memiliki iris yang tegak. Betinanya bertelur pada awal musim penghujan dan. telurnya diletakkan di dalam tanah dan ditimbun dengan sampah tetumbuhan. Habitat yang menjadi favorit buaya ini adalah lubuk-lubuk yang relatif dalam, rawa-rawa, hingga ke pedalaman. Makanan utamanya meliputi ikan, udang dan juga monyet (Kimball, 1990).
Adapun menurut Yatim (1985), klasifikasi dari Buaya Sinyulong adalah sebagai berikut :
Kingdom  : Animalia
Filum        : Chordata
Kelas        : Sauropsida
Ordo         : Crocodilia
Famili       : Crocodylidae
Genus       : Tomistoma
Spesies     : Tomistoma schlegelii
Buaya dapat bergerak dengan sangat cepat pada jarak pendek, bahkan juga di luar air. Binatang ini memiliki rahang yang sangat kuat, yang dapat menggigit dengan kekuatan luar biasa, menjadikannya sebagai hewan dengan kekuatan gigitan yang paling besar. Gigi-gigi buaya runcing dan tajam, amat berguna untuk memegangi mangsanya. Buaya menyerang mangsanya dengan cara menerkam sekaligus menggigit mangsanya itu, kemudian menariknya dengan kuat dan tiba-tiba ke air. Oleh sebab itu otot-otot di sekitar rahangnya berkembang sedemikian baik sehingga dapat mengatup dengan amat kuat. Mulut yang telah mengatup demikian juga amat sukar dibuka, serupa dengan gigitan tokek. Akan tetapi sebaliknya, otot-otot yang berfungsi untuk membuka mulut buaya amat lemah (Parjatmo, 1993).
3.2.3. Orlitia borneensis ( Kura-kura Bluku atau Gading )


 Dok. Pribadi
 biasa disebut The Malayan Raksasa Terrapin (atau Raksasa Black River Penyu / Borneo River Penyu) merupakan kura-kura air tawar terbesar di Asia Tenggara. Kura-kura ini adalah hewan semi-akuatik, menghuni danau besar, rawa dan sungai yang mengalir lambat (Djuanda, 1983).
Memiliki karapas oval kehitaman atau coklat tua, halus, dan plastron berwarna cokelat kekuningan pucat dengan off white. Pada orang dewasa karapas lebih datar dan halus bermata, namun remaja yang lebih bundar dan bergerigi posterior. Kaki berselaput besar dan dayung-seperti, dan cakar panjang dan tebal (Jasin, 1992).
Memiliki kepala yang besar dan lebar berwarna gelap. Tempurung oval, menyempit dan sedikit pipih dan bulat di atas. Plastron berwarna kekuningan / coklat muda yang polos dan halus. Seluruh badan berwarna hitam kecuali bagian tempurung bawah / plastron. Maksimum mencapai ukuran 80 cm dengan berat 36-50 kg. Persebarannya Indonesia (Sumatra dan Kalimantan) dan Malaysia. Adapun lasifikasi Orlitia borneensis yaitu (Kimball, 1990):
Kingdom  : Animalia
Filum        : Chordata
Kelas        : Reptilia
Ordo         : Testudines
Famili       : Geoemydidae
Genus       : Orlitia
Spesies     : Orlitia borneensis
Hal ini diyakini menjadi omnivora, mungkin memakan buah yang jatuh dan materi tanaman lainnya, serta ikan dan vertebrata lain yang tersedia. Ini jarang spesies langka terjadi di Thailand selatan, Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Spesimen Diperkenalkan kadang-kadang dapat ditemukan di waduk Singapura dan sungai pengumpan (Iskandar, 2000).
3.2.4. Amyda cartilaginea ( Labi-labi )


 Google
Labi-labi memiliki bentuk tubuh oval atau agak bulat apabila dilihat dari atas, pipih tanpa sisik, bentuk tubuh demikian disebut theca, punggung atau karapas pada bagian dorsal dan plastron atau tempurung pada bagian ventral terbungkus oleh kulit yang liat. Di sisi belakang karapas terdapat pelebaran pipih yang bentuknya membulat mengikuti bentuk karapas bagian belakang dengan tekstur seperti tulang rawan (cartilago) (Parjatmo, 1993).
Adapun klasifikasi Amyda cartilaginea  ialah (Jafnir, 1985) :
Kingdom  : Animalia
Filum        : Chordata
Kelas        : Reptilia
Ordo         : Testudines
Famili       : Trionychidae
Genus       : Amyda
Spesies     : Amyda cartilaginea
Menurut Iskandar (2000) warna perisai dari labi-labi yaitu, hitam sampai abu-abu, pada perisai punggung terdapat bintik-bintik kecil membentuk garis-garis yang terputus-putus dari depan ke belakang, pada tulang perisai tidak mempunyai keping-keping perisai. Kepala dan kaki berwarna hitam atau abu-abu, pada hewan muda umumnya dijumpai bintik-bintik berwarna kuning. Kadang-kadang dijumpai juga enam sampai sepuluh bercak hitam bertepi putih melengkung pada bagian belakang perisainya, terutama pada individu muda (Iskandar, 2000).
Mata labi-labi berjumlah dua buah yang terletak pada bagian samping kepala yang dilengkapi dengan kelopak mata. Mata mempunyai tiga kelopak yaitu : (1) kelopak mata atas bentuknya tebal pendek, (2) kelopak mata bawah bentuknya tipis, panjang (3) membran niktitan, merupakan selaput transparan sebagai pelindung bola mata. Kaki bersifat pentadactil yaitu jenis kaki pada vertebrata berkaki empat yang terbentuk sebagai adaptasi terhadap kehidupan di darat dari pasangan sirip ikan krosopterigia. Kaki labi-labi bisa digunakan untuk berenang dan berjalan di daratan (Djarubito, 1990).
Jika kita perhatikan lebih teliti ternyata ukuran kaki tidak sama. Kaki depannya lebih panjang daripada kaki belakang. Kaki depan yang ukurannya lebih panjang ini bisa digunakan sebagai pendayung saat berenang. Labi-labi atau bulus atau kura-kura air tawar (reptilia) bersifat poikilothermal yang artinya, suhu tubuh tidak tetap tetapi berubah-ubah mengikuti suhu lingkungan (Djarubito, 1990).
Menurut Riduwan (2002), seekor labi-labi bernapas dengan paru-paru (pulmo), demikian juga dengan anak-anaknya yang baru menetas. Sepanjang hidupnya, labi-labi tidak pernah mengalami perubahan alat pernapasannya yang berupa paru-paru tersebut (Riduwan, 2002) .

3.2.5. Phyton reticulatus ( Sanca Batik atau Kembang )
Python reticulatus memiliki banyak sebutan baik di antero dunia dan beberapa daerah di Indonesia. Di Inggris disebut reticulated python, di Jerman disebut netzpython, di Prancis disebut python rěticulě, di jawa disebut ular puspo kajang dan di Ambon disebut ular petola. Selain nama-nama di atas, satwa ini memiliki beberapa nama umum berdasarkan keunikan dari corak dan warna sisik seperti ular sanca kembang dan ular sanca batik. 
Sebutan ini diberikan karena coraknya yang menarik, tetapi ada sedikit perbedaan interpretasi masyarakat dalam mendeskripsikan dan menarasikan corak tersebut. Sebutan lainnya yaitu ular sanca / piton karena ular ini merupakan ular besar yang paling banyak dapat ditemui di lingkungan masyarakat (Jasin, 1992).
Ular sanca batik (Python reticulatus) memilki klasifikasi sebagai berikut (Iskandar, 2002) :
Kingdom  : Animalia
Filum        : Chordata
Kelas        : Reptilia
Ordo         : Squamata
Famili       : Pythonidae
Genus       : Python
       Species     : Python reticulatus
              Ular sanca batik memiliki corak sisik yang sangat unik dan indah yang merupakan perpaduan antara warna coklat, emas, hitam dan putih (Tweedie 1984 dan Mehrtens 1987). Ular sanca batik merupakan ular terpanjang di dunia bersaing dengan Anaconda (Eunectes murinus) dalam rekor ular terbesar yang pernah hidup (Mehrtens 1987). Selama masa hidup ular sanca, panjang tubuhnya dapat mencapai 11 meter (Pope 1949; Mehrtens 1987) dan bobot badan dapat mencapai 158 Kg (Mexico 2000) (Smirnova, 2000).
Banyak jenis-jenis ular yang sepanjang hidupnya hampir tidak pernah menyentuh tanah (arboreal), jenis yang lain hidup melata di atas tanah atau menyusup dibawah serasah atau tumpukan bebatuan (terestrial). Sementara yang lain hidup akuatik atau semi akuatik di sungai-sungai, rawa, danau dan laut. Ular sanca batik memiliki habitat hutan yang lebat rumputnya dan termasuk hutan tropis, banyak ditemukan di dekat sungai dan area yang dekat dengan sungai-sungai kecil maupun danau. Ular sanca tersebar di wilayah Asia Tenggara dan pulau-pulau di sekitar laut Pasifik antara lain ditemukan di Filipina, Borneo, Jawa, Sumatra, Timor Timur dan Seram. Selain itu, ular sanca juga dapat ditemukan di beberapa pulau-pulau kecil dalam teritorinya seperti yang sering terlihat oleh penduduk di sungai atau dermaga di urban area. Ular sanca batik termasuk satwa ektotermik, yaitu satwa dengan produksi panas tubuh sebagai hasil aktivitas metabolisme yang sangat terbatas dan mekanisme kontrol pengembalian produksi panas sangat rendah sehingga untuk mencukupi kebutuhan panasnya, satwa ini harus mengambil panas dari lingkungan (Surachmad, 1978).

3.2.6. Phyton molurus ( Sanca Bodo )


 Google
Ular sanca bodo adalah hewan nokturnal (hewan yang aktif dimalam hari) dan hidup di hutan hujan. Ketika muda mereka tinggal di rumah yang berada di lubang-lubang tanah dan di pohon, tetapi ketika mereka tumbuh dan memperoleh ketebalan badan yang cukup, mereka cenderung untuk membatasi gerakan mereka, sebagian besar di tanah. Mereka juga perenang yang sangat baik, karena dapat tetap terendam sampai setengah jam. Sanca bodo menghabiskan sebagian besar waktu mereka berrsembunyi di semak-semak (Ravidran, 1995).
Ular sanca bodo dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Asiatic Rock Python, Burmese Python, atau Tiger Python. Sedangkan dalam bahasa latin disebut Python molurus. Ular sanca bodo  mempunyai warna dasar kulitnya coklat muda hingga coklat tua, ada pula yang kuning atau krem, dengan belang-belang hitam atau coklat tua. Corak belang pada sanca bodo berupa jaringan dengan mata jaring hampir berbentuk segi empat. Ular sanca bodo termasuk ular besar (Boidae) karena mampu mencapai panjang 10 meter (Ravidran, 1995).
Adapun klasifikasi ilmiah ular sanca bodo yaitu (Kimball, 1990) :
Kingdom  : Animalia
Filum        : Chordata
Kelas        : Reptilia
Ordo         : Squamata
Famili       : Pythonidae
Genus       : Python
Spesies     : Python molurus
Hewan yang banyak dijadikan peliharaan ini ini mematikan mangsanya dengan cara melilit tubuhnya. Makanan kesukaan sanca bodo antara lain tikus, luwak, kera, bajing juga hewan besar seperti babi hutan, rusa dan kijang. Selain itu mereka makan pula burung dan ayam hutan. Makanan kesukaan sanca bodo antara lain tikus, luwak, kera, bajing juga hewan besar seperti babi hutan, rusa dan kijang. Seekor ular sanca bodo betina sekali bertelur bisa mencapai 40 butir bahkan lebih. Telur-telur tersebut akan menetas setelah 60-80 hari. Ular sanca bodo tersebar di India, Bangladesh, Pakistan hingga Nepal hingga ke Indonesia, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Di Indonesia, ular sanca bodo (Python molurus) dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sumbawa, hingga sebagian Sulawesi. Beberapa dekade terakhir, hewan melata raksasa ini juga ditemukan di hutan di Florida Amerika Serikat akibat banyak para pemeliharanya yang melepaskan hewan ini begitu saja ke alam liar. Ular sanca bodo meskipun mulai langka di Indonesia tetapi populasinya masih dianggap banyak sehingga IUCN Redlist masih melabelinya dalam status konservasi “Near Threatened” (Hampir Terancam) (Jasin, 1992).

3.2.7.        Varanus komodoensis ( Biawak Komodo )


 Dokumen Pribadi
 memiliki panjang tubuhnya mencapai 3,1 meter dan beratnya mencapai 165 kg. hewan ini merupakan jenis biawak terbesar di dunia. Hewan ini memiliki panjang ekor yang hampir sama dari panjang tubuhnya. Memiliki gigi yang seperti gerigi, panjangnya sekitar 2,5 cm. Biawak memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang.
Biawak jantan ukuran tubuhnya lebih besar daripada biawak betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah menyala (umumnya hanya sedikit), sementara biawak betina lebih berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki warna kuning (hanya sedikit) pada tenggorokannya. Biawak muda memiliki warna lebih menarik, yaitu warna kuning, hijau dan putih dengan warna dasar hitam (Parjatmo, 1993).
Adapun klasifikasi Varanus komodoensis, ialah (Djarubito, 1990) :
Kingdom  : Animalia
Filum        : Chordata
Kelas        : Reptilia
Ordo         : Squamata
Famili       : Varanidae
Genus       : Varanus
Spesies     : Varanus komodoensis
              Hewan ini menghasilkan air liur mengandung bakteri mematikan, sehingga sering disebut sebagai bisa. Giginya yang tajam mampu melukai mangsanya dengan cara menyobek tubuhnya. Lidahnya yang bercabang mampu mengdeteksi panas tubuh. Hewan ini aktif saat siang hari (diurnal). Terkadang juga aktif saat malam hari (sangat jarang). Musim kawin terjadi pada bulan Mei dan Agustus, dan bertelur pada bulan September. Biawak meletakkan telur-telurnya di lubang-lubang tanah. Umumnya biawak betina menghasilkan 20 butir telur. Biawak betina umumnya akan mengerami telur-telurnya, sedangkan biawak jantan akan mencari makanan dan melindungi betinanya hingga telur menetas. Masa inkubasi telur komodo sekitar 7-8 bulan. Hewan ini merupakan jenis karnivora yang sangat buas. Makanannya adalah mamalia kecil hingga berukuran besar, unggas, telur unggas, reptile lain, dan bahkan telur reptile lainnya (Yatim, 1985).

DAFTAR PUSTAKA
Amri, K. dan Khairuman. 2002. Budi Daya Ikan Nila Secara Intensif. Agromedia Pustaka : Jakarta.
Anderson, T. J., Berry, A., Amos,J., and Cook, J. 1988. Spool and Line Tracking of The New Guinea Spiny Bandicoots, E. Kalubu. Journal of Mammalogy 69 : 114-120.
Anggraeni, N, et al. 2009. Analisis DNA Mikrosatelit Untuk Identifikasi Paternitas Pada Beruk (Macaca nemestrina) di Penangkaran Pusat Studi Satwa Primata IPB.  J Prim Ind . 6(2) : 70-77.
Ankel-Simons  F. 2007. Primate  Anatomy  an  Introduction Edisi  3. Academic Pr : London.
Birdlife. 2001. Dasar-Dasar  Ekologi Burung. Bogor. Birdlife Internasional  Indonesia 20(4) : 557-570.
Chen, Y. 2002. Relationship Between Body Weight And Hematological And Serum Biochemical Parameters In Female Cynomolgus Monkeys (Macaca fasicularis). Exp Anim 2002 : 51(2) : 125-131.
Djarijah, A.S. 1994. Pembenihan Dan Pembesaran Ikan Nila Merah Secara Intensif. Kanasius : Yogyakarta.
Djarubito, Mukayat. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga : Jakarta.
Djuanda, Tatang. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid I. Armico : Bandung.
Donald, P. F. 2004. Macam-Macam Kelas Aves. Yogyakarta : Gramedia.
Faizah, Ulfi. 2003. “Study Tingkah Laku Anak Harimau Sumatra (Panthera tigris) di Kebun Binatang Surabaya”. Universitas Negeri Malang : Malang.
Fajri, S. 2000. Perilaku Rusa Totol (Axis axis) yang Dikembangkan di Halaman Istana Bogor. [Skripsi] Jurusan Ilmu Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Flannery, T. 1995. Mammals of New Guinea. Comstock. Cornell Publications.
Goin, C. J and O. B. Goin. 1971. Intoduction to Herpetology. Second Edition. WH. Freeman and Company. San fransisco Grand  TI.  1972.  A  Mechanical  Interpretation  of  Terminal  Branch  Feeding. Journal of Mammalogy. Vol 53(1) : 198-201.
Gunawan dan Asman A. Purwanto.2001. Distribusi dan Populasi Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus Leucogaster) di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Hasan, I. 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Ghalia Indonesia : Jakarta.
Hurly, T. A.1995. Spatial Memory in Rufous Hummingbirds (Selasphorusrufus) : A Field Test. Anim. Learn. Behav. 23, 63-68.
Iskandar, D. T. 2000. Buaya dan Kura-Kura Indonesia. Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor : Indonesia.
Jafnir. 1985. Pengantar Anatomi Hewan Vertebrata. Universitas Andalas : Padang.
Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Jaya : Surabaya.
Jones, D. B. et al. 2004. Asian Primates Classification.  Int J Prim. 25(1) : 97-164.
Jordan, E. l. 1993. Chordate Zoology. New Delhi : Schand and Company.
Kimball, John. 1990. Biologi. Erlangga : Jakarta.
MacKinon. 1998. Seri Panduan Lapangan Burung Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan.
Manufandu JS. 2000. Pola Tingkah Laku Harian Bandikut Hidung Panjang (Echymipera Rufescens) di Penangkaran. Universitas Cendrawasih.
Nelson, J. E. 2003. “Developmental Differences are Correlated  with Relative Brain Size in Birds : A Comparative Analysis”. Canadian Journal of Zoology. 81 : 1913-1928.
Nishida, T. 1982. Body Measurement and Analysis of External Genetic Characters of Indonesian Native Fowl. The Origin and Phylogeny of Indonesian Native Livestock. Vol 3. PP. 73-83.
Norberg, U. M. 1990. Vertebrate Flight : Meahanics, Physiology, Morphology, Ekology, and Evolution. Springer. Verlag : Berlin.
Nowak, R. M. 1991. Walker's Mammals of The World. Fifth Edition. Johns Hopkins University Press : Baltimore.
Parjatmo, W. 1993. Panduan Keterampilan Kerja  Laboratorium. Bandung : ITB.
Perron, R. 1992. The Cassowary in Captivity. The  International  Zoo  News. No. 240 Vol. 39 / 7.
Prawiradilaga. DM. dkk, 2003. Seri Panduan Burung Pemangsa Taman Nasional Gunung Halimun.
Ravidran, V. 1995.  Phytases  :  Occurrence Bioavailabity  and  Implication  in  Poultry  Nutrition.  Poultry  and  Avian Biology Reviews. Vol 6 (2) : 125-143.
Riduwan. 2002. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Penerbit Alfabeta : Bandung.
Smirnova, AA, Of Lazareva and Za Zorina (2000) Use of Number by Crows : Investigation by Matching and Oddity Learning. J. Experimental Analysis of Behaviour. Vol 73 : 163-176.
Somes, R.G. 1990. Mutation And Major Variants Of Plumage  And Skin In Chickens. In : R.D. CRAWFORD (Ed). Poultry Breeding and Genetics. Elsevier. Developments in Animal  and Veterinary Sciences. Vol 22. PP. 169-208.
Surachmad, W. 1978. Pengantar Penelitian Ilmiah - Dasar Metode Teknik. Penerbit Tarsito : Bandung.
Suryati, Siti. 2010. Ekologi Burung. Tiga Serangkai : Bogor .
Susanto, H. 2005. Budi Daya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta. Suyanto, R. 1993. Nila. Penebar Swadaya : Jakarta.
Widodo, W. 1998. Kelimpahan, Habitat, dan Pakan Alami Burung-Burung Paruh Bengkok (Psittacidae) di Tanimbar Selatan. Gakuryoku 5(3) : 168-175.
Yanuar  A,  Chivers  DJ,  Sugardjito  J,  Martyr  DJ,  Holden  JT.   2009.   The Population  Distribution  of  Pig-Tailed  Macaque  (macaca  nemestrina)  and Long-Tailed  Macaque  (Macaca  fascicularis)  in  West  Central  Sumatra, Indonesia.  Asian Prim J. 1(2) : 2-11.
Yatim, W. 1985. Biologi Jilid II. Tarsito : Bandung.