Rabu, 05 Maret 2025
Rabu, 29 Juli 2020
Jumat, 23 Januari 2015
PESONA PULAU LEMUKUTAN
hiruk-pikuk
perkotaan dan juga aktivitas-aktivitas yang tentunya membuat anda berfikir
untuk mencari tempat-tempat refreshing, nah kali ini saya berbagi informasi seputar
tempat-tempat yang tidak pernah sepi untuk dikunjungi oleh setiap orang baik
semasa liburan maupun hari-hari biasa.
Salah satu
tempat yang kita kunjungi kali ini adalah Pulau
Lemukutan. Lemukutan merupakan tempat wisata bahari yang ada dikalimantan
barat. Pesona bawah laut dan keindahan pantai menjadi daya tarik tersendiri
pulau ini. Akses transportasi air kepulau ini terletak di kota singkawang
khususnya Teluk Suak. Dengan
perjalanan kurang lebih dua jam, selama dua jam perjalanan anda melintasi
beberapa pulau yang indah seperti ini.
Sebelum sampai
ke Pulau Lemukutan, melalui transportasi air akan terlihat beberapa gugusan
pulau-pulau lainnya yang tidak kalah indah seperti gambar diatas yang disebut
dengan Pulau Penata Besar dan Penata
Kecil. Nah ini seputar perjalanan menuju pulau lemukutan.
Nah ini adalah
dermaga akses masuk kepulau Lemukutan yang berada di Teluk Melanau bagian timur (image juni 2013). Perbaikan
infrastruktur terus dilakukan oleh pemerintah setempat demi kenyamanan
berwisata kepulau ini, akhir tahun 2014 mulai diberlakukan tarif bagi setiap
pengunjung pulau ini.
Berbicara
mengenai panorama indah pulau ini dapat anda liat sendiri pada gambar ini.
Pesona pagi hari
dan sore hari yang menjadi moment penting untuk mengabadikan liburan saya kali
ini. Keindahan bawah laut khususnya Melanau timur masih bisa dijumpai hewan
invertebrata seperti ini siput laut, bulu babi, kerang-kerangan, coral, spons,
timun laut. Nah hewan-hewan ini dapat kita jumpai pada teluk melanau bagian
timur sedangkan pada teluk melanau bagaian barat keindahan bawah laut memiliki
pesona yang lebih indah jika dibandingkan dengan Melanau bagian Timur.
Teluk melanau
bagian barat dapat kita jumpai beberapa jenis spesies anemo atau ikan nemo.
Yang perlu kita ketahui bahwa keberadaan ikan nemo mencirikan keberadaan
terumbu karang dan kualitas lingkungan yang seimbang. Pesona bawah laut diteluk
melanau barat dapat lansung kita liat dengan kedalaman kurang lebih 80 cm.
jangan lupa jika anda berkunjung keteluk melanau bagian barat anda harus tetap
menjaga kelestarianya karena merupakan kawasan konservasi.
Bicara mengenai
teluk melanau bagian timur pesona alam dapat anda liat seperti ini.
Berbagai pesona
alam menawarkan keindahannya, penduduk yang mendiami pulau Lemukutan adalah
sambas perantauan. Nah asal kata Lemukutan itu pilosofinya pulau ini mirip
seperti Lembu. Denah pulau Lemukutan terbagi menjadi beberapa bagian yaitu
melanau bagian timur dan bagian barat, teluk cina, teluk besar, teluk panjang,
teluk surau dan teluk Palembang. PLN Lemukutan hanya beroperasi dari jam 17.00
– 06.00, bagi anda yang ingin liburan kepulau ini jangan lupa untuk melihat
iklim cuaca terlebih dahulu karena jika musim penghujan kuatnya angin laut
menyebabkan ombak tinggi, tetap mendengar instruksi dari petugas keselamatan
setempat. Nah sampai disini dulu penjelasan mengenai kondisi yang ada di
Lemukutan. Sampai jumpa…….
E-mail:
indrawahyudi958@gmail.com
facebook: Indra Musa Al-makmun
ARSITEK
ALAM KEINDAHAN PULAU KABUNG
Pulau
Kabung merupakan pulau yang terletak di kabupaten bengkayang, kecamatan sungai
raya kepulauan. waktu tempuh menuju pulau kabung ini kurang lebih dua jam dari
pelabuhan teluk suak yang ada di kota singkawang. Kalau kita liat dari namanya
saja cukup menyeramkan akan tetapi tidak pada keadaan yang semestinya, karena
di pulau kabung hutannya masih tergolong hutan primer dan keindahan bawah laut
masih berada dalam tahap perkembangan.
Menurut
perkembangan mitos dari masyarakat setempat pada zaman dahulu pulau kabung ini
didiami oleh pelaut dari bugis yang terdampar karena tenggelamnya kapal yang
akan berlayar, karena sepi yang mencekam pulau ini dihuni oleh sebagian kecil
orang (sekali lagi itu mitos percaya atau tidak kembali ke anda) akan tetapi biarpun begitu alam menawarkan berjuta kehidupan dan sampai
saat ini kabung memiliki potensi laut dan hutan yang masih asri.
Pulau Kabung
sering dikunjungi bagi para pemancing. Ciri yang saya ketahui dari pulau ini
adalah sotong rebus. Sotong yang telah didapat dari hasil tangkapan dengan
menggunakan jaring yang digatung (Bagan). Sotong yang telah direbus dijemur
sampai kering bisa lansung kita santap rasanya yang lezat tidak bisa dijumpai
selain dari pulau ini. Dipulau kabung ini terdapat sekolah dasar dengan tenaga
pengajar dari tempat yang bukan penduduk asli pulau kabung.
Dipulau kabung
ini masih bisa kita temui beberapa spesies monyet, sedangkan untuk keindahan
bawah lautnya sendiri bisa kita temui coral dan bulu babi serta beberapa
spesies ikan karang. Dipulau kabung ini banyak pengunjung berdatangan hanya
untuk memancing hasil pancingan seperti ikan merah, ikan krapu, dan ikan
gembung. Dipulau kabung masyarakat banyak memakai genset sebagai penerangan
dimalam hari karena belum memiliki pembangkit listrik. Sedangkan untuk air
bersih penduduk kabung menggunakan air kolam.
Keadaan bawah
laut pulau kabung sekitar 30 meter lepas pantai tidak kita jumpai karang-karang
lagi karena bentuk pantai lansung menjorok kelaut.
Nah itu dia
keindahan bawah laut pulau kabung, indah bukan. Kelestarian pulau kabung
membuatnya selalu terjaga oleh penduduk setempat.
Nah
mengenai keadaan pulau kabung bisa anda liat sendiri dan komentar sendiri. J bersama rekan-rekan dari pojok kanan ada Riska, Debi,
Andika, Dirga, Bil, Indra.
Sabtu, 06 September 2014
Jumat, 06 Juni 2014
ARTI SEBUAH KATA
Sebaiknya kita semua mulai mengendalikan Kata-kata yang keluar dari mulut kita dengan Kata-Kata yang Positif dan Baik.
Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air ang ditulis dalam buku “The Hidden Messages in Water” karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan, sayapun tertarik untuk melakukannya sbb:
Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap..
Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.
Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.
Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyata nasi dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata ” Kamu Bodoh”.
Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.
Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat,,
Indra Musa-almakmun//facebook.com
Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air ang ditulis dalam buku “The Hidden Messages in Water” karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan, sayapun tertarik untuk melakukannya sbb:
- Tempatkan Nasi sisa yg sdh didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.
- Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata2 sbb:
- Toples A : “Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih”.
- Toples B : “Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu”
- Botol 2 ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut.
- Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 mingg kemudian :
Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap..
Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.
Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.
Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyata nasi dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata ” Kamu Bodoh”.
Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.
Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat,,
Indra Musa-almakmun//facebook.com
Minggu, 23 Februari 2014
3.1. Kelas Pisces
3.1.1. Oreochromis niloticus ( Ikan Nila )
doc. pribadi |
Ikan nila (Oreochromis
niloticus) merupakan jenis ikan air tawar dengan bentuk tubuh yang
memanjang dan pipih ke samping dan dengan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal
dari Sungai Nil dan danau-danau di sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar
ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di
wilayah yang memiliki iklim yang dingin ikan nila tidak dapat hidup dan
berkembang dengan baik (Hasan, 2002).
Saat ini ada dua jenis ikan nila yang beredar di
Indonesia, yaitu nila hitam dan nila merah. Ikan nila banyak di temukan di
perairan yang memiliki air tenang, seperti danau, rawa, dan waduk. Toleransi
terhadap lingkungan sangat tinggi. Nila termasuk ikan omnivora dan sangat
menyenangi pakan alami berupa Rotifera, Dapnia sp, Moina sp, Benthos,
Ferifiton, dan Fitoplankton (Djarijah, 1994).
Menurut Hasan (2002), klasifikasi dari ikan nila adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Ordo : Percomorphi
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
Ikan nila (Oreochromis niloticus) mempunyai bentuk tubuh lebih pendek. Tubuhnya lebih tebal,
warna tubuhnya hitam keputihan, kepalanya relatif kecil, sisik berukuran besar,
kasar, tersusun rapi, matanya besar, menonjol dan bagian tepinya berwarna
putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus dibagian tengah badannya dagingnya
cukup tebal dan tidak terdapat duri-duri halus didalamnya (Amri, 2002).
Ikan nila memilki lima buah sirip, yakni sirip
punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (ventral fin),
sirip anus (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggunya memanjang
dari bagian atas tutup ingsang hingga bagian atas sirip ekor, terdapat juga
sepasang sisrip dada dan sirip perut yang berukuran kecil. Sirip anusnya hanya
satu buah dan berbentuk agak panjang, sedangkan sirip ekornya berbentuk bulat
dan hanya berjumlah satu buah (Susanto, 2005).
3.2. Kelas
Reptilia
3.2.1. Crocodilus
porosus ( Buaya Muara
)
|
Buaya muara (Crocodilus porosus) memiliki tubuh ditutupi
oleh sisik-sisik yang berukuran besar, pada bagian ekor menyerupai duri-duri
yang besar berderet dari pangkal ekor hingga ke arah ujung, sisik-sisik di
bagian punggungnya berukuran lebih kecil dari sisik-sisik pada ekor. Di bagian
depan mata sampai lubang hidung ditutupi oleh lempengan sisik yang tipis. Buaya
muara memiliki ciri khas yaitu mulutnya selalu terbuka meskipun didalam air, meski
mulutnya terbuka di dalam air, tetapi buaya muara masih mampu bernapas dengan
baik saat lubang hidungnya berada di atas permukaan air. Buaya ini tidak
mempunyai pengait di moncongnya (Djuanda, 1983).
Perilaku
buaya muara senang merendam tubuhnya di dalam air, tanpa terganggu pernapasan
dan penglihatannya, sebab lubang hidung dan matanya terdapat pada sisi bagian
atas kepala. Selama hidupnya buaya selalu mengganti giginya dengan yang baru.
Buaya punya tenaga paling kuat saat tubuhnya berada di dalam air. Ekor buaya
sangat berperan saat berenang tau menyelam. Jenis kelamin buaya tidak dapat
diketahui hanya dengan cara melihatnya secara langsung. Reproduksi dengan cara
bertelur, fertilisasi interna yang terjadi saat perkawinan yang biasa terjadi
di dalam air. Telur diletakkan di dalam timbunan tanah dan seresah berupa
daun-daun dan ranting oleh buaya betina setelah 2 bulan dari waktu kawin,
jumlah telur kadang mencapi 100 butir yang akan menetas setelah 8-12 minggu (Riduwan,
2002).
Klasifikasi buaya muara
adalah sebagai berikut (Kimball, 1990) :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Sauropsida
Ordo : Crocodilia
Famili : Crocodylidae
Genus : Crocodilus
Spesies : Crocodilus porosus
Buaya
muara akan mencari pakan pada waktu sore hingga malam hari, jenis binatang yang
dimakan sangat bervariasi. Pada buaya yang masih anak akan memakan serangga,
udang, ikan dan amphibia, sedang yang sudah dewasa akan memakan burung dan
mamalia. Tempat hidupnya di muara sungai. Penyebarannya di Sri Langka, sampai
Kepulauan Fiji dan Australia Utara (Surachmad, 1978).
3.2.2. Tomistoma schlegelii ( Buaya Senyulong )
|
Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii) merupakan salah satu spesies buaya yang mempunyai
ukuran tubuh yang lebih kecil dan pendek, dengan panjang maksimal tubuhnya
hanya 3,5 meter. Buaya senyulong ini mempunyai bentuk moncong runcing
serta sempit. Habitat asli buaya senyulong ini yaitu
dapat banyak ditemukan disekitar sungai-sungai pedalaman Sulawesi, Sumatera maupun
Kalimantan
(Iskandar, 2000).
ebagai hewan poikiloterm (berdarah
dingin), predator ini dapat bertahan cukup lama tanpa makanan, dan jarang
benar-benar perlu bergerak untuk memburu mangsanya. Meskipun nampaknya lamban,
buaya merupakan pemangsa puncak di lingkungannya, dan beberapa jenisnya teramati
pernah menyerang dan membunuh ikan hiu. Pada musim kawin dan bertelur buaya
dapat menjadi sangat agresif dan mudah menyerang manusia atau hewan lain yang
mendekat. Di musim bertelur buaya amat buas menjaga sarang dan telur-telurnya.
Induk buaya betina umumnya menyimpan telur-telurnya dengan dibenamkan di bawah
gundukan tanah atau pasir bercampur dengan serasah dedaunan. Induk tersebut
kemudian menungguinya dari jarak sekitar 2 meter (Jafnir, 1985).
Perbedaan buaya senyulong ini dengan
buaya lainnya adalah moncongnya yang sangat sempit dengan ukuran tubuh yang
mencapai 5,6 m. jari kaki buaya ini memiliki selaput, dan sisi kakinya
bertunas-tunas. Matanya memiliki iris yang tegak. Betinanya bertelur pada awal
musim penghujan dan. telurnya diletakkan di dalam tanah dan ditimbun dengan
sampah tetumbuhan. Habitat yang menjadi favorit buaya ini adalah lubuk-lubuk
yang relatif dalam, rawa-rawa, hingga ke pedalaman. Makanan utamanya meliputi
ikan, udang dan juga monyet (Kimball, 1990).
Adapun menurut Yatim (1985),
klasifikasi dari Buaya Sinyulong adalah sebagai berikut :
Kingdom :
Animalia
Filum :
Chordata
Kelas :
Sauropsida
Ordo : Crocodilia
Famili : Crocodylidae
Genus : Tomistoma
Spesies : Tomistoma
schlegelii
Buaya dapat bergerak dengan
sangat cepat pada jarak pendek, bahkan juga di luar air. Binatang ini memiliki
rahang yang sangat kuat, yang dapat menggigit dengan kekuatan luar biasa,
menjadikannya sebagai hewan dengan kekuatan gigitan yang paling besar.
Gigi-gigi buaya runcing dan tajam, amat berguna untuk memegangi mangsanya.
Buaya menyerang mangsanya dengan cara menerkam sekaligus menggigit mangsanya
itu, kemudian menariknya dengan kuat dan tiba-tiba ke air. Oleh sebab itu
otot-otot di sekitar rahangnya berkembang sedemikian baik sehingga dapat mengatup
dengan amat kuat. Mulut yang telah mengatup demikian juga amat sukar dibuka,
serupa dengan gigitan tokek. Akan tetapi sebaliknya, otot-otot yang berfungsi
untuk membuka mulut buaya amat lemah (Parjatmo, 1993).
3.2.3. Orlitia
borneensis ( Kura-kura Bluku atau Gading )
|
biasa disebut The Malayan Raksasa Terrapin (atau Raksasa Black River Penyu / Borneo River
Penyu) merupakan kura-kura air tawar terbesar di Asia Tenggara. Kura-kura ini
adalah hewan semi-akuatik, menghuni danau besar, rawa dan sungai yang mengalir
lambat (Djuanda, 1983).
Memiliki karapas oval kehitaman atau
coklat tua, halus, dan plastron berwarna cokelat kekuningan pucat dengan off
white. Pada orang dewasa karapas lebih datar dan halus bermata, namun remaja
yang lebih bundar dan bergerigi posterior. Kaki berselaput besar dan
dayung-seperti, dan cakar panjang dan tebal (Jasin, 1992).
Memiliki kepala yang besar dan lebar
berwarna gelap. Tempurung oval, menyempit dan sedikit pipih dan bulat di atas.
Plastron berwarna kekuningan / coklat muda yang polos dan halus. Seluruh badan
berwarna hitam kecuali bagian tempurung bawah / plastron. Maksimum mencapai
ukuran 80 cm dengan berat 36-50 kg. Persebarannya Indonesia (Sumatra dan
Kalimantan) dan Malaysia. Adapun lasifikasi Orlitia
borneensis yaitu (Kimball, 1990):
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudines
Famili : Geoemydidae
Genus : Orlitia
Spesies : Orlitia borneensis
Hal ini diyakini menjadi omnivora,
mungkin memakan buah yang jatuh dan materi tanaman lainnya, serta ikan dan
vertebrata lain yang tersedia. Ini jarang spesies langka terjadi di Thailand
selatan, Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Spesimen Diperkenalkan
kadang-kadang dapat ditemukan di waduk Singapura dan sungai pengumpan
(Iskandar, 2000).
3.2.4. Amyda cartilaginea ( Labi-labi )
|
Labi-labi memiliki bentuk tubuh oval atau agak bulat
apabila dilihat dari atas, pipih tanpa sisik, bentuk tubuh demikian disebut theca, punggung atau karapas pada bagian dorsal dan plastron atau
tempurung pada bagian
ventral terbungkus oleh kulit yang liat. Di sisi belakang karapas terdapat pelebaran pipih yang bentuknya
membulat mengikuti bentuk karapas bagian belakang dengan tekstur seperti tulang rawan (cartilago) (Parjatmo,
1993).
Adapun
klasifikasi Amyda cartilaginea ialah (Jafnir, 1985) :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudines
Famili : Trionychidae
Genus : Amyda
Spesies : Amyda
cartilaginea
Menurut Iskandar (2000) warna perisai dari labi-labi yaitu, hitam sampai abu-abu, pada perisai punggung
terdapat bintik-bintik kecil membentuk garis-garis yang terputus-putus dari depan ke
belakang, pada tulang perisai tidak mempunyai keping-keping perisai. Kepala dan kaki berwarna hitam atau abu-abu, pada
hewan muda umumnya dijumpai bintik-bintik berwarna kuning. Kadang-kadang dijumpai juga enam sampai sepuluh bercak hitam bertepi putih melengkung pada
bagian belakang perisainya, terutama pada individu muda (Iskandar, 2000).
Mata labi-labi berjumlah dua buah yang terletak pada bagian samping kepala yang dilengkapi dengan kelopak
mata. Mata mempunyai tiga kelopak yaitu : (1) kelopak mata atas bentuknya tebal pendek, (2)
kelopak mata bawah bentuknya tipis, panjang (3) membran niktitan, merupakan selaput transparan sebagai pelindung bola mata. Kaki bersifat pentadactil yaitu
jenis kaki pada vertebrata berkaki empat yang terbentuk sebagai adaptasi terhadap kehidupan di darat dari pasangan
sirip ikan krosopterigia. Kaki
labi-labi bisa digunakan untuk berenang dan berjalan di daratan (Djarubito, 1990).
Jika kita perhatikan lebih teliti ternyata ukuran kaki tidak sama. Kaki depannya lebih
panjang daripada kaki belakang. Kaki depan yang ukurannya lebih panjang ini bisa digunakan sebagai pendayung saat berenang. Labi-labi atau bulus atau
kura-kura air tawar (reptilia) bersifat poikilothermal yang artinya, suhu tubuh tidak tetap tetapi berubah-ubah
mengikuti suhu
lingkungan (Djarubito, 1990).
Menurut Riduwan (2002), seekor labi-labi bernapas dengan paru-paru (pulmo), demikian juga
dengan anak-anaknya yang baru menetas. Sepanjang hidupnya, labi-labi tidak pernah mengalami perubahan alat pernapasannya yang berupa paru-paru
tersebut (Riduwan, 2002) .
3.2.5. Phyton reticulatus ( Sanca Batik atau Kembang )
Python
reticulatus memiliki
banyak sebutan baik di antero dunia dan beberapa daerah di Indonesia. Di
Inggris disebut reticulated python, di Jerman disebut netzpython,
di Prancis disebut python rěticulě, di jawa disebut ular puspo kajang
dan di Ambon disebut ular petola. Selain nama-nama di atas, satwa ini memiliki
beberapa nama umum berdasarkan keunikan dari corak dan warna sisik seperti ular
sanca kembang dan ular sanca batik.
Sebutan ini diberikan karena
coraknya yang menarik, tetapi ada sedikit perbedaan interpretasi masyarakat
dalam mendeskripsikan dan menarasikan corak tersebut. Sebutan lainnya yaitu
ular sanca / piton karena ular ini merupakan ular besar yang paling banyak
dapat ditemui di lingkungan masyarakat (Jasin, 1992).
Ular sanca
batik (Python reticulatus)
memilki klasifikasi sebagai berikut (Iskandar, 2002) :
Kingdom :
Animalia
Filum :
Chordata
Kelas :
Reptilia
Ordo :
Squamata
Famili :
Pythonidae
Genus : Python
Species : Python reticulatus
Ular sanca batik memiliki
corak sisik yang sangat unik dan indah yang merupakan perpaduan antara warna
coklat, emas, hitam dan putih (Tweedie 1984 dan Mehrtens 1987). Ular sanca
batik merupakan ular terpanjang di dunia bersaing dengan Anaconda (Eunectes
murinus) dalam rekor ular terbesar yang pernah hidup (Mehrtens 1987).
Selama masa hidup ular sanca, panjang tubuhnya dapat mencapai 11 meter (Pope
1949; Mehrtens 1987) dan bobot badan dapat mencapai 158 Kg (Mexico 2000)
(Smirnova, 2000).
Banyak jenis-jenis ular yang
sepanjang hidupnya hampir tidak pernah menyentuh tanah (arboreal), jenis yang
lain hidup melata di atas tanah atau menyusup dibawah serasah atau tumpukan
bebatuan (terestrial). Sementara yang lain hidup akuatik atau semi akuatik di
sungai-sungai, rawa, danau dan laut. Ular sanca batik memiliki habitat hutan
yang lebat rumputnya dan termasuk hutan tropis, banyak ditemukan di dekat
sungai dan area yang dekat dengan sungai-sungai kecil maupun danau. Ular sanca
tersebar di wilayah Asia Tenggara dan pulau-pulau di sekitar laut Pasifik
antara lain ditemukan di Filipina, Borneo, Jawa, Sumatra, Timor Timur dan
Seram. Selain itu, ular sanca juga dapat ditemukan di beberapa pulau-pulau
kecil dalam teritorinya seperti yang sering terlihat oleh penduduk di sungai
atau dermaga di urban area. Ular sanca batik termasuk satwa ektotermik, yaitu
satwa dengan produksi panas tubuh sebagai hasil aktivitas metabolisme yang
sangat terbatas dan mekanisme kontrol pengembalian produksi panas sangat rendah
sehingga untuk mencukupi kebutuhan panasnya, satwa ini harus mengambil panas
dari lingkungan (Surachmad, 1978).
3.2.6. Phyton molurus ( Sanca
Bodo )
|
Ular sanca bodo adalah hewan nokturnal (hewan yang aktif
dimalam hari) dan hidup di hutan hujan. Ketika muda mereka tinggal di rumah
yang berada di lubang-lubang tanah dan di pohon, tetapi ketika mereka tumbuh
dan memperoleh ketebalan badan yang cukup, mereka cenderung untuk membatasi
gerakan mereka, sebagian besar di tanah. Mereka juga perenang yang sangat baik,
karena dapat tetap terendam sampai setengah jam. Sanca bodo menghabiskan
sebagian besar waktu mereka berrsembunyi di semak-semak (Ravidran, 1995).
Ular sanca bodo dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Asiatic Rock
Python, Burmese Python, atau Tiger Python. Sedangkan dalam bahasa latin disebut
Python molurus. Ular sanca bodo mempunyai warna dasar kulitnya
coklat muda hingga coklat tua, ada pula yang kuning atau krem, dengan
belang-belang hitam atau coklat tua. Corak belang pada sanca bodo berupa
jaringan dengan mata jaring hampir berbentuk segi empat. Ular sanca bodo
termasuk ular besar (Boidae) karena mampu mencapai panjang 10 meter (Ravidran,
1995).
Adapun klasifikasi ilmiah
ular sanca bodo yaitu (Kimball,
1990) :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Famili : Pythonidae
Genus : Python
Spesies : Python molurus
Hewan yang banyak dijadikan
peliharaan ini ini mematikan mangsanya dengan cara melilit tubuhnya. Makanan
kesukaan sanca bodo antara lain tikus, luwak, kera, bajing
juga hewan besar seperti babi hutan, rusa dan kijang. Selain itu mereka makan
pula burung dan ayam hutan. Makanan kesukaan sanca bodo antara lain tikus, luwak,
kera, bajing juga hewan besar seperti babi hutan, rusa dan kijang.
Seekor ular sanca bodo betina sekali bertelur bisa mencapai 40 butir bahkan
lebih. Telur-telur tersebut akan menetas setelah 60-80 hari. Ular sanca bodo
tersebar di India, Bangladesh, Pakistan hingga Nepal hingga ke Indonesia, Laos,
Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Di Indonesia, ular sanca bodo (Python molurus) dapat ditemukan di
Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sumbawa, hingga sebagian Sulawesi. Beberapa dekade
terakhir, hewan melata raksasa ini juga ditemukan di hutan di Florida Amerika
Serikat akibat banyak para pemeliharanya yang melepaskan hewan ini begitu saja
ke alam liar. Ular sanca bodo meskipun mulai langka di Indonesia
tetapi populasinya masih dianggap banyak sehingga IUCN Redlist masih
melabelinya dalam status konservasi “Near Threatened” (Hampir Terancam) (Jasin,
1992).
3.2.7. Varanus komodoensis (
Biawak Komodo )
|
memiliki panjang tubuhnya mencapai 3,1 meter
dan beratnya mencapai 165 kg. hewan ini merupakan jenis biawak terbesar di
dunia. Hewan ini memiliki panjang ekor yang hampir sama dari panjang tubuhnya.
Memiliki gigi yang seperti gerigi, panjangnya sekitar 2,5 cm. Biawak memiliki
lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang.
Biawak jantan ukuran tubuhnya lebih besar daripada
biawak betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah menyala
(umumnya hanya sedikit), sementara biawak betina lebih berwarna hijau buah
zaitun, dan memiliki warna kuning (hanya sedikit) pada tenggorokannya. Biawak
muda memiliki warna lebih menarik, yaitu warna kuning, hijau dan putih dengan
warna dasar hitam (Parjatmo, 1993).
Adapun klasifikasi Varanus
komodoensis, ialah (Djarubito,
1990) :
Kingdom :
Animalia
Filum :
Chordata
Kelas :
Reptilia
Ordo :
Squamata
Famili :
Varanidae
Genus :
Varanus
Spesies :
Varanus komodoensis
Hewan ini menghasilkan air liur mengandung bakteri
mematikan, sehingga sering disebut sebagai bisa. Giginya yang tajam mampu
melukai mangsanya dengan cara menyobek tubuhnya. Lidahnya yang bercabang mampu
mengdeteksi panas tubuh. Hewan ini aktif saat siang hari (diurnal). Terkadang
juga aktif saat malam hari (sangat jarang). Musim kawin terjadi pada bulan Mei
dan Agustus, dan bertelur pada bulan September. Biawak meletakkan
telur-telurnya di lubang-lubang tanah. Umumnya biawak betina menghasilkan 20
butir telur. Biawak betina umumnya akan mengerami telur-telurnya, sedangkan biawak
jantan akan mencari makanan dan melindungi betinanya hingga telur menetas. Masa
inkubasi telur komodo sekitar 7-8 bulan. Hewan ini merupakan jenis karnivora
yang sangat buas. Makanannya adalah mamalia kecil hingga berukuran besar,
unggas, telur unggas, reptile lain, dan bahkan telur reptile lainnya (Yatim,
1985).
DAFTAR PUSTAKA
Amri, K. dan Khairuman. 2002. Budi Daya Ikan Nila Secara Intensif. Agromedia Pustaka : Jakarta.
Anderson,
T. J., Berry, A., Amos,J., and Cook, J. 1988. Spool and Line Tracking of The
New Guinea Spiny Bandicoots, E. Kalubu. Journal
of Mammalogy 69 : 114-120.
Anggraeni,
N, et al. 2009. Analisis DNA Mikrosatelit Untuk Identifikasi Paternitas Pada
Beruk (Macaca nemestrina) di
Penangkaran Pusat Studi Satwa Primata IPB.
J Prim Ind . 6(2) : 70-77.
Ankel-Simons F. 2007. Primate Anatomy
an Introduction Edisi 3. Academic Pr : London.
Birdlife. 2001.
Dasar-Dasar Ekologi Burung. Bogor. Birdlife Internasional Indonesia 20(4) : 557-570.
Chen,
Y. 2002. Relationship Between Body Weight And Hematological And Serum
Biochemical Parameters In Female Cynomolgus Monkeys (Macaca fasicularis). Exp Anim 2002 : 51(2) : 125-131.
Djarijah, A.S. 1994. Pembenihan Dan Pembesaran Ikan Nila Merah Secara Intensif. Kanasius :
Yogyakarta.
Djarubito, Mukayat. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga : Jakarta.
Djuanda, Tatang. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid I. Armico : Bandung.
Donald, P. F. 2004. Macam-Macam Kelas Aves. Yogyakarta :
Gramedia.
Faizah, Ulfi. 2003. “Study Tingkah Laku Anak Harimau Sumatra (Panthera tigris) di Kebun Binatang
Surabaya”. Universitas Negeri Malang : Malang.
Fajri,
S. 2000. Perilaku Rusa Totol (Axis axis) yang Dikembangkan di Halaman Istana
Bogor. [Skripsi] Jurusan Ilmu Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut
Pertanian Bogor.
Flannery,
T. 1995. Mammals of New Guinea.
Comstock. Cornell Publications.
Goin,
C. J and O. B. Goin. 1971. Intoduction to Herpetology. Second Edition. WH.
Freeman and Company. San fransisco Grand
TI. 1972. A
Mechanical Interpretation of
Terminal Branch Feeding. Journal
of Mammalogy. Vol 53(1) : 198-201.
Gunawan dan Asman A. Purwanto.2001.
Distribusi dan Populasi Elang Laut Perut
Putih (Haliaeetus Leucogaster) di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Hasan, I. 2002. Pokok-Pokok
Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Ghalia Indonesia : Jakarta.
Hurly,
T. A.1995. Spatial Memory in Rufous Hummingbirds (Selasphorusrufus) : A Field
Test. Anim. Learn. Behav. 23, 63-68.
Iskandar,
D. T. 2000. Buaya dan Kura-Kura Indonesia.
Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor : Indonesia.
Jafnir.
1985. Pengantar Anatomi Hewan Vertebrata.
Universitas Andalas : Padang.
Jasin,
M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk
Perguruan Tinggi. Sinar Jaya : Surabaya.
Jones,
D. B. et al. 2004. Asian Primates Classification. Int J
Prim. 25(1) : 97-164.
Jordan, E. l. 1993. Chordate Zoology. New Delhi : Schand and
Company.
Kimball,
John. 1990. Biologi. Erlangga : Jakarta.
MacKinon. 1998. Seri Panduan Lapangan Burung Sumatera, Jawa, Bali
dan Kalimantan.
Manufandu JS. 2000. Pola Tingkah Laku Harian Bandikut Hidung
Panjang (Echymipera Rufescens) di Penangkaran. Universitas Cendrawasih.
Nelson,
J. E. 2003. “Developmental Differences are Correlated with Relative Brain Size in Birds : A
Comparative Analysis”. Canadian Journal of Zoology. 81 : 1913-1928.
Nishida, T. 1982. Body
Measurement and Analysis of External Genetic Characters of Indonesian Native
Fowl. The Origin and Phylogeny of
Indonesian Native Livestock. Vol 3. PP. 73-83.
Norberg, U. M. 1990. Vertebrate Flight : Meahanics, Physiology,
Morphology, Ekology, and Evolution. Springer. Verlag : Berlin.
Nowak,
R. M. 1991. Walker's Mammals of The World.
Fifth Edition. Johns Hopkins University Press : Baltimore.
Parjatmo,
W. 1993. Panduan Keterampilan Kerja
Laboratorium. Bandung : ITB.
Perron, R. 1992. The
Cassowary in Captivity. The International
Zoo News. No. 240 Vol. 39 /
7.
Prawiradilaga. DM. dkk, 2003.
Seri Panduan Burung Pemangsa Taman
Nasional Gunung Halimun.
Ravidran,
V. 1995. Phytases :
Occurrence Bioavailabity and Implication
in Poultry Nutrition.
Poultry and
Avian Biology Reviews. Vol 6 (2) : 125-143.
Riduwan. 2002. Skala
Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Penerbit Alfabeta : Bandung.
Smirnova,
AA, Of Lazareva and Za Zorina (2000) Use of Number by Crows : Investigation by
Matching and Oddity Learning. J.
Experimental Analysis of Behaviour. Vol 73 : 163-176.
Somes, R.G. 1990. Mutation
And Major Variants Of Plumage And Skin
In Chickens. In : R.D. CRAWFORD (Ed). Poultry Breeding and Genetics. Elsevier. Developments in Animal and Veterinary Sciences. Vol 22. PP.
169-208.
Surachmad, W. 1978. Pengantar Penelitian Ilmiah - Dasar Metode Teknik. Penerbit Tarsito
: Bandung.
Suryati, Siti. 2010. Ekologi Burung. Tiga Serangkai : Bogor .
Susanto, H. 2005. Budi
Daya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta. Suyanto, R. 1993. Nila.
Penebar Swadaya : Jakarta.
Widodo, W. 1998. Kelimpahan, Habitat, dan Pakan Alami
Burung-Burung Paruh Bengkok (Psittacidae) di Tanimbar Selatan. Gakuryoku
5(3) : 168-175.
Yanuar A,
Chivers DJ, Sugardjito
J, Martyr DJ,
Holden JT. 2009.
The Population Distribution of
Pig-Tailed Macaque (macaca nemestrina) and Long-Tailed Macaque
(Macaca fascicularis) in
West Central Sumatra, Indonesia. Asian
Prim J. 1(2) : 2-11.
Yatim,
W. 1985. Biologi Jilid II. Tarsito :
Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)